Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 07, 2014

UAS TERAKHIR

Ujian kali ini dah kelar,,, karena cuma ambil 4 mata kuliah, so ujian pun cuma 4 kali. Pada hari pertama ujian cukup meyakinkan,, walaupun saat perjalanan mengalami rintangan yang lumayan, Hujan yang turun dari pagi hari sudah mulai reda. nyaris tidak ada air hujan yang turun. Akan tetapi parjalanan yan padat akan membuat langkah menuju kampus terasa lama. Yang biasanya perjalanan cuma 10 menit sampai, harus memekan waktu sekitar 1 jam. Itu pun sudah memakai motor,, coba kalau naik angkutan umum bisa jadi waktu ujian dah habis baru sampai TKP.
Pada ujian kedua nyaris tak ada sesuatu yang berarti. Perjalanan berjalan normal dan seperti biasanya. Berangkat dengan lancar, ujian, selesai dan pulang ke rumah.
Pada hari ketiga, tepatnya hari senin, gw ujian teknologi emulsi. Hujan dah mengguyur sedari pagi hari belum reda juga. jam 5 gw berangkat ke kampus dengan sedikit was-was, hujan masih tetap turun walaupun gak terlalu deras. Dengan perlindungan mantel akhirnya gw sampai ke kampus dengan pakaian yang masih selamat. masih ada waktu buat sholat dan ke kamar mandi. 
Ujian berlangsung dengan penuh ketegangan. pengawas kali ini sungguh disiplin. Bahkan tepat di depan duduk gw lagi. Untung gw masih ingat sedikit pelajaran yang pernah diajarkan dosen. Jadi gak begitu masalah bagiku dengan keadaan seperti ini. Ynag jadi masalah adalah teman-teman gw yang masih pada bingung nyari jawaban sana-sini. Dengan penuh treat dan trik akhirnya semua jawaban mampu dijawab dengan baik.
Selesai ujian hujan pun belum reda, dengan bekal jas hujan tanpa basa-basi lansung cabut. Hujan masih konsisten mengguyur parjalanan. Semakin lama malah semakin deras. Sempat berfikir untuk istirahat, akan tetapi hari semakin malam, dan besok masih ada aktofitas yang harus dikerjakan lagi. Kondisi badan yang udah basah kuyup karena hujan yang terlalu besar, bahkan jas hujan pun tak mampu untuk menahan air masuk ke badanku. Sesampai dirumah, gw langsung mandi dan istirahat.
Hari berikutnya ujian terakhir,, Gw berangkat dengan penuh semangat. Setengah jam sebelum masuk ujian gw dah sampai kampus. sempet belajar sebentar sama teman-teman gw, tapi apa daya soal yang diujikan diluar prediksi. Jadi deh ujian kali ini penuh dengan karangan yang indah. Untungnya si dosen baek,, soal suruh bawa pulang, dann dikerjakan di rumah, sebagai nilai tugas.
Soalnya seperti ini ni,,
1.       Dalam proses apa saja termokimia digunakan untuk memperkirakan energy yang terjadi?
2.   Apa yang dimaksud dengan tetapan kesetimbangan reaksi dan factor-faktor apa saja yang    mempengaruhinya?
3.       Sebutkan prinsip dasar tentang teori asam yang dikemukakan oleh Bronsted dan Lowry!
4.      Apa yang dimaksud dengan elektrolit kuat dan sebutkan bahan-bahan kimia yang tergolong ke dalamnya?
5.      Bila dalam sebuah reaksi kesetimbangan kimia diketahui :
3P + 5Q <- - -> 2 R + 4 S
Hitunglah tetapan kesetimbangan reaksi tersebut!
6.      Jika Suatu larutan terdiri atas 2 mol zat terlarut A dan zat dan 5 zat terlarut B, hitunglah fraksi mol dari      kedua larutan tersebut.
7.      Hitunglah molalitas dari 4 gram Ca(OH)2 dalam 500 gram air, bila diketahui  Ar Ca : 40, O : 16, dan H : 1
8.      Hitunglah pH dari 2 liter larutan 0.1 mol asam sulfat, bila diketahui persamaan reaksinya adalah
H2SO4  -à 2 H + SO4

Jawab
1.      Termokimia digunakan untuk memperkirakan energy yang terjadi pada proses
a.       Reaksi kimia
b.      Perubahan fase
c.       Pembentukan larutan
2.      Tetapan kesetimbangan reaksi adalah perbandingan konsentrasi pada suatu reaksi kesetimbangan, factor yang mempengaruhi
a.       Suhu
b.      Tekanan / Volume
c.       Konsentrasi
3.      Menurut Bronsted dan Lowry Asam adalah spesi yang member proton (H +)
4.      Elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan listrik dengan baik. Yang termasuk didalamnya diantaranya HCl, HNO3, H2SO4, dan NaOH
5.      Kc           = R^2 . S^4 / P^3 . Q ^5

  XA          =nA / n Total
= 2 / 2 + 5
= 2/7
       XB            = n B / n Total
                        = 5/7
       Xtotal        = XA + XB
                        = 2/7 + 5/7          = 7/7      = 1

7.      Molaritas             = gram/MR  -> MR Ca(OH)2         = 40 + 16*2 +1*2
= 74
=4/74                    =0.054054
Molalitas                      = mol x 1000/masa
                                    = 0.054054 x 1000/500
                                   = 0.1081  
   pH          = - log H+
= - log 2                               
= - log 0.2             (0.1 mol., jadi di kali 0.1)
= 0.69

Senin, Januari 27, 2014

ASETAL DEHIDA


TUGAS PRAKTIKUM KIMIA
PEMBUATAN ASETALDEHIDA










Disusun oleh :
Muhamad Mukhibin (2008340035)




FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2014

PENDAHULUAN
Asetaldehide, atau menurut nama sistematisnya etanal, adalah sebuah senyawa organik dari kelompok aldehida, dengan rumus kimia CH3CHO atau MeCHO. Senyawa ini merupakan cairan mudah terbakar  dengan bau buah-buahan. Asetaldehida terdapat dalam buah-buahan dan kopi yang sudah matang, dan roti segar. Senyawa ini dihasilkan oleh tumbuhan  dalam metabolisme normalnya. Asetaldehida juga merupakan zat antara dalam produksi asam asetat, beberapa ester, dan zat-zat kimia lainnya.
Asetaldehid merupakan senyawa organik yang terdiri dari satu gugus alkil dan sekurangnya satu atom hidrogen yang terikat pada karbon karbonilnya. Aldehida lazim terdapat dalam sistem makhluk hidup. Aldehida memiliki bau yang khas yang dapat membedakannya dengan keton. Umumnya aldehida berbau merangsang dan keton berbau harum.
Salah satu aldehid yang penting adalah asetaldehid. Asetaldehid memiliki titik didih sekitar temperatur kamar (20oC), juga lebih mudah untuk disimpan atau diangkut dalam bentuk trimer atau tetramer siklik. Asetaldehid digunakan sebagai zat antara dalam sintesis asam asetat, anhidrida asetat dan senyawa-senyawa lain dalam industri.
Sintesa aldehid dapat dilakukan beberapa metode, yakni oksidasi alkohol primer dengan KMnO4 + H2O atau K2Cr2O7 + H2O, reduksi asilhalida dengan H2 yang dikenal reaksi Rosenmund, suling kering garam alkanoat dengan garam formiat, adisi CO dan H2 pada alkena, dan cara khusus dengan hidrasi katalitik dari asetilena.
Aldehid merupakan sekian banyak kelompok senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Aldehida mempunyai sekurangnya satu atom hidrogen yang terikat pada karbon karboninya. Gugus lain dalam suatu aldehida (R dalam rumus di bawah ini) dapat berupa alkil, aril atau H.
Aldehid lazim terdapat dalam sistem makhluk hidup. Gula ribosa dan hormon betina progesteron merupakan contoh aldehid yang penting secara biologis. Banyak aldehid mempunyai bau yang khas yang membedakannya umumnya aldehid berbau merangsang. Misalnya, transinamaldehida adalah komponen utama minyak kayu manis dan enentiomer-enantiomer karbon yang menimbulkan bau jintan dan tumbuhan permen.
Dalam sistem IUPAC, nama suatu aldehida diturunkan dari nama alkana induknya dengan mengubah huruf akhir –a menjadi –al. tak diperlukan nomor; gugus –CHO selalu memiliki nomor 1 untuk karbonnya.
Aldehid lazim, nama trivialnya untuk digunakan cara luas. Aldehid diberi nama menurut nama asam karboksilat induknya dengan mengubah akhiran asam  –oat atau asam –at menjadi akhiran aldehida.
Asam karboksilat                                                  Aldehida
Asam formiat                                                        Formaldehid
Asam asetat                                                          Asetaldehid
Asam propionat                                                    Propionaldehid
Asam butirat                                                         Butiraldehid
Asam benzoat                                                       Benzaldehid

Salah satu aldehid penting, asetaldehida dengan titik didih sekitar temperatur kamar (20oC), juga lebih mudah untuk disimpan atau diangkut dalam bentuk trimer atau tetramer siklik. Asetaldehida digunakan sebagai zat antara dalam sintesis asam asetat, anhidrida asetat dan senyawa-senyawa lain dalam industri. (Ralp J. Fessenden dan Joan S. Fessenden, 1982).
Aldehida mudah direduksi masing-masing menjadi alkohol primer dan sekunder. Reduksi dapat dilakukan dengan berbagai cara, umumnya dengan hidrida logam.
Hidrida logam yang paling sering digunakan untuk mereduksi senyawa karbonil ialah lithium alumina hidrida (LiAlH4) dan natrium borohidrida (NaBH4). Ikatan logam-hidrida terpolarisasi, dengan muatan pada logam positif dn muatan pada hidrogen negatif. Dengan demikian, reaksinya melibatkan serangan nukleofilik tak reversibel dari hidrida (H-) pada karbon karbonil. Produk awalnya ialah aluminium alkoksida, yang selanjutnya terhidrolisis oleh air dan asam menghasilkan alkohol. Hasil akhirnya ialah adisi hidrogen pada ikatan rangkap karbon-oksigen.
Karena ikatan rangkap karbon-karbon tidak mudah diserang oleh nukleofilik, hidrida logam dapat digunakan untuk mereduksi ikatan rangkap karbon-oksigen menjadi alkohol padanannya tanpa mereduksi ikatan rangkap karbon-karbon yang terdapat pada senyawa yang sama.
Aldehid jauh lebih mudah dioksidasi dari keton. Oksidasi aldehida menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama. Karena reaksi ini terjadi dengan mudah, banyak zat pengoksidasi seperti KMnO4, CrO3, Ag2O dan perasam dapat digunakan
Ion perak sebagai pengoksidasi memang mahal tetapi dapat secara selektif mengoksidasi aldehida menjadi asam karboksilat meskipun dengan kehadiran alkena.
Uji laboratorium yang membedakan aldehida dari keton didasarkan pada perbedaan kemudahannya dioksidasi. Pada uji cermin perak Tollens, ion kompleks perak-amonia direduksi oleh aldehida (tetapi tidak oleh keton) menjadi perak logam.
Jika bejana kaca tempat melakukan uji benar-benar bersih, perak pengendap sabagai cermin pada permukaan kaca. Reaksi ini juga dilakukan pada kaca perak, dengan menggunakan aldehida yang murah, yaitu formaldehida.
Aldehida begitu mudahnya dioksidasi sehingga sampel yang disimpan biasanya mengandung sedikit asamnya. Kontaminasi ini disebabkan oleh oksidasi udara

RCHO  +  O2 → 2 RCO2H

                                                                         (Harold Hart, 1983).

Destilasi adalah metode pemisahan zat-zat cair dari campurannya berdasarkan perbedaan titik didih. Pada proses destilasi sederhana, suatu campuran dapat dipisahkan apabila zat-zat penyusunnya mempunyai perbedaan .titik didih cukup tinggi. Misalnya untuk memisahkan natrium klorida dan air dari larutan garam NaCl, maka pelarut yang mempunyai titik didih rendah dalam hal ini air diuapkan kemudian diembunkan (dikondensasikan) kembali untuk mendapatkan air murni (aquades). Apabila proses ini dilanjutkan, maka semua air akan habis menguap dan terkondensasi sehingga yang tertinggal hanya padatan zat terlarut natrium klorida.
Pada pemisahan campuran dari dua cairan yang menguap atau titik didihnya berdekatan lebih banyak persoalannya, sehingga tidak dapat dilakukan dengan destilasi biasa. Suatu cara yang sering digunakan untuk memperoleh hasil yang lebih baik disebut destilasi bertingkat, yaitu proses dalam mana komponen-komponennya secara bertingkat diuapkan dan diembunkan.
Dalam proses ini campuran didihkan pada kisaran suhu tertentu pada tekanan tetap. Uap yang dilepaskan dari dalam cairan tidak murni berasal dari salah satu komponen tetapi masih mengandung komponen dengan komposisi yang biasanya berbeda dengan komposisi cairan yang mendidih. Kenyataan umum yang diperoleh adalah bahwa uap lebih banyak mengandung komponen yang mudah menguap (atsiri).
Bila sebagian cairan yang telah didihkan uapnya diembunkan, maka campuran akan terbagi manjadi dua bagian. Bagian pertama terdiri dari uap yang terembunkan disebut destilat, dan yang mengandung lebih banyak komponen yang atsiri dibandingkan cairan aslinya. Bagian kedua adalah cairan yang tertinggal disebut residu, yang susunannya lebih banyak komponen yang sukar menguap. Bila destilat yang mula-mula diperoleh dipanaskan lagi sampai mendidih, maka uap yang baru akan lebih banyak lagi komponen yang lebih atsiri. Hal ini dapat diulangi lagi beberapa kali sampai akhirnya diperoleh salah satu komponen murni yang mudah menguap.
Destilasi bertingkat dengan proses bertahap (batch) seperti dilakukan diatas agak merepotkan. Pemisahan yang lebih efisien dapat dicapai melalui proses sinambung (kontinyu) yang dapat dilakukan dengan cara cepat dalam suatu kolom fraksionasi. Dalam kolom ini uap diembunkan dan tersuling ulang beberapa kali sebelum meninggalkan kolom sampai akhirnya diperoleh destilat yang murni. Destilasi bertingkat dengan cara ini banyak dipakai dalam industri, misalnya untuk memisahkan minyak mentah ke dalam berbagai komponennya, termasuk bensin, minyak tanah, minyak pelumas dan parafin.
Pada pemisahan campuran yang membentuk larutan non ideal dapat menujukkan prilaku yang lebih rumit. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan secara menyeluruh kedalam komponen-komponennya, karena bila didihkan campuran akan mendidih dengan konstan. Campuran semacam ini disebut azeotrop, yaitu campuran yang mendidih pada suhu konstan dan dengan komposisi yang konstan. Campuran HCl dan air adalah contoh larutan non ideal yang menunjukkan deviasi negatif besar.
Campuran ini memiliki titik didih maksimum yang konstan pada 1 atm dan suhu 108,5oC, dengan komposisi 20,22% HCl. Campuran lain yang mempunyai titik didih konstan adalah etil alkohol dan air. Campuran ini menunjukkan deviasi positif besar dari sifat ideal, sehingga mendidih dengan titik didih minimum 72,8oC pada 1 atm dengan komposisi 95,6% etil alkohol. Untuk mengetahui hubungan antara titik didih dan komposisi uap dapat dibuat diagram titik didih. (Estien Yazid, 2005) 

PROSES PEMBUATAN
Asetaldehid dibuat dengan proses oksidasi alkohol primer yang menggunakan bahan pengoksidasi kalium bikromat yang diasamkan dengan asam sulfat encer.
Proses pertama yaitu menyiapkan alat-alat sintesis. Kemudian mencampurkan 7,5 gram kalium bikromat dengan campuran 30 ml air dan 5,5 ml H2SO4 pekat, dimasukkan ke dalam labu destilasi. Kalium bikromat bertindak sebagai oksidator dengan mengoksidasi ikatan pada alkohol menjadi aldehid. Sedangkan H2SO4 pekat berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi dan memberi suasana asam sehingga kalium bikromat dapat terionkan.
Ke dalamnya ditambahankan batu didih untuk mencegah terjadinya ledakan / bumping pada saat nanti dipanaskan. Kemudian dimasukkan 10 ml etanol 96% sebagai bahan baku pembuatan asetaldehid. Dengan segara , ditutup labu destilasi untuk mencegah terjadinya penguapan bahan baku. Dialirkan pada tabung liebig. Prinsip kerjanya yaitu dengan memisahkan dua atau lebih komponen cairan berdasarkan perbedaan titik didih. Reaksi pembentukan asetaldehid akan berjalan dengan sendirinya , karena reaksi ini bersifat eksoterm. Akan tetapi memerlukan waktu yang lama, sehingga untuk mempercepat reaksi, dilakukan pemanasan.
Pemanasan dilakukan dengan nyala api kecil dan dengan suhu dijaga tidak boleh lebih dari 70 C. Karena apabila suhu lebih dari 70 C maka akan terjadi esterifikasi dimana alkohol dan air naik , dan menghasilkan gugus karboksilat yang kemudian tercampur dalam asetaldehid. Sehingga nanti produk yang dihasilkan tidak murni asetaldehid.
Untuk  membuktikan asetildehide dapat terbentuk dapat menggunakan reaksi identifikasi aldehide
Reaksi Identifikasi Aldehid diantarnya adalah,
1.      Reduksi larutan perak ammoniakal / Reagen Tollens
Pada uji tollens ini dapat digunakan untuk mengidentifikasikan senyawa aldehid yang terkandung dalam sampel. Reagen tollens dibuat dengan cara mereaksikan 2 mL AgNO3 9% dengan 2 ml larutan amoniak dalam NaOH. Dikatakan positif bila dihasilkannya cermin perak (Ag(s)).
2.      Reaksi dengan Reagen Fehling.
Fehling terdiri dari 2 bagian yaitu Fehling A dan Fehling B. Fehling A adalah larutan CuSO4, sedangkan Fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartarat. Untuk menguji adanya alehid pada praktikum ini yaitu dengan cara mengambil sedikit destilat ke dalam tabung reaksi, kemudian pereaksi Fehling A dan Fehling B dicampurkan ke dalam larutan tersebut. Dikatakan positif terdapat asetaldehid bila terjadi berubahan warna dari biru menjadi endapan berwarna merah

3.      Pendamaran oleh Alkali
Tujuan dari reaksi pendamaran adalah untuk mengetahui adanya gugus alkil, reaksi ini menggunakan NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan dengan rantai aldehid dan akan membentuk aldolaldehid. Identifikasi dilakukan dengan destilat dengan beberapa tetes larutan NaOH perbandingan 1 : 1, kemudian dipanaskan. Terbentuk larutan berwarna kuning keruh dan bau dammar menunjukkan bahwa larutan mengandung asetildehide.
4.      Reaksi Warna Schiff
Pereaksi Schiff dapat digunakan untuk memenentukan adanya gugus aldehid. Identifikasi dilakukan dengan mencampurkan destilat dan reagen schiff beberapa tetes dengan perbandingan 1:1. Gugus aldehid ditunjukkan dengan adanya warna ungu apabila direaksikan dengan pereaksi Schiff.
5.      Pembentuka Fenil Hidrazin
Pada identifikasi yang terakhir, dilakukan dengan mencampurkan destilat dengan reagen hidrazin. Uji positif akan ditandai dengan larutan yang berwarna kuning.

 KESIMPULAN 
Kegunaan asetaldehid antara lain:
a. Sebagai bahan baku pembuatan asam asetat.
b.Sebagai bahan baku dalam anhidrida asetat dan esternya, yaitu etil asetat.
c. Aldehid aromatik sering digunakan sebagai penyedap, parfum dan lain sebagainya.
d.      Sebagai bahan untuk kareat atau damar buatan dan zat warna.
Sifat kimia asetaldehid yaitu: larut dalam air, lebih reaktif daripada keton, dapat dideteksi dengan uji Tollens, Benedict dan fehling, dan dapat bersifat sebagai pereduksi. Sedangkan sifat fisis asetaldehid yaitu: merupakan cairan yang baunya sangat enak, mudah menguap dan titik didihnya 20,2oC.
Pembuatan asetaldehid dilakukan dari oksidasi alkohol primer yakni etanol dengan larutan K2Cr2O7  dalam suasana asam dengan menggunakan metode destilasi yang didasarkan pada perbedaan titik didih masing-masing larutannya.

DAFTAR PUSTAKA
  
Fessenden R. J dan J. S Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Hart, Harold. 1983. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Jakarta: Erlangga.
Http://alchemist0308.blogspot.com/2011/11/laporan-organikasetaldehid.html
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi.









 


Kamis, Oktober 17, 2013

KOLOID




KOLOID




 








DISUSUN OLEH :
MUHAMAD MUKHIBIN
2008340035
                
                         

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2013




BAB I . SISTEM KOLOID



A. Pengertian Koloid
         Koloid termasuk kedalam salah satu jenis sistem dispersi. Jenis sistem dispersi lainnya adalah Larutan sejati dan suspensi. Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan sejati dan suspensi (campuran kasar).


           Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi. Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid. Sistem koloid sangat berkaitan erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari. Cairan tubuh, seperti darah adalah sistem koloid, bahan makanan seperti susu, keju, nasi, dan roti adalah sistem koloid. Cat, berbagai jenis obat, bahan kosmetik, tanah pertanian juga merupakan sistem koloid. Karena sistem koloid sangat berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari, kita harus mempelajarinya lebih mendalam agar kita dapat menggunakannya dengan benar dan dapat bermanfaat untuk diri kita.

B. Koloid dalam kehidupan sehari-hari

Berberapa contoh larutan, koloid, dan suspensi.
Contoh larutan                     : larutan gula, garam, spiritus, alkohol 70%, larutan cuka,
                                                air laut,udara yang bersih.
Contoh koloid                      :  buih, susu, santan, selai, jeli, mentega, mayonaise, cat
Contoh suspensi                   :  air sungai yang keruh, campuran air-pasir
Fakta           air sungai = setelah disaring masih mengandung zat terlarut dan                                                     partikel koloid

C. Jenis-jenis koloid

            Penggolongan koloid didasarkan atas fase terdispersi dan medium pendispersinya. Untuk fase terdispersi padat : sol (sol padat, sol cair, sol gas). Pengertian  secara umum : sol padat = sol, sol gas = aerosol.
            Untuk fase terdispersi cair : emulsi (emulsi padat, emulsi cair, emulsi gas).  Pengertian secara umum : emulsi cair = emulsi, emulsi  gas = aerosol cair / aerosol. Untuk fase terdispersi gas : buih (buih padat dan buih cari). Buih gas (tidak ada)  = larutan, bukan koloid
            Koloid yang setengah kaku, antara padat dan cair disebut gel. Dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorbsi medium pendispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat. Contoh : agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, gel silica.

Tabel 1. Jenis-jenis koloid berdasarkan zat terdispersi dan pendispersinya.
Fase Terdispersi
Medium Pendispersi
Jenis (Nama Koloid)
Contoh
Padat
Padat
Sol padat
Gelas berwarna, intan hitam
Padat
Cair
Sol
Tinta, cat
Padat
Gas
Aerosol
Debu di udara, asap rokok
Cair
Padat
Emulsi padat
Jely, Mutiara
Cair
Cair
Emulsi
Susu, Santan, minyak ikan
Cair
Gas
Aerosol
Kabut
Gas
Padat
Buih Padat
Karet busa, batu apung
Gas
Cair
Buih
Buih Sabun
           
D. Penggunaan koloid
            Koloid merupakan satu-satunya cara untuk menyajikan suatu campuran dari zat-zat yang tidak saling melarutkan secara “homogen” dan stabil. Contoh pemanfaatan sifat ini : cat yang terdiri dari zat warna (pigmen) tak larut dalam air / medium cat, dengan koloid didapat campuran yang “homoge” dan stabil. Contoh lain : industri kosmetik, farmasi, makanan, tektil, sabun/detergen.

BAB II. SIFAT-SIFAT KOLOID
A.    Efek Tyndal
      Merupakan efek penghamburan cahaya, sehingga nampak adanya berkas cahaya bila cahaya dilewatkan ke dalamnya. Contoh : sorot lampu mobil, lampu proyektor bila ada yang merokok, berkas sinar matahari melalui celah dedaunan

B.    Gerak Brown
      Adalah gerak zig-zag dan terus menerus dari partikel koloid. Ditemukan pertama kali oleh Robert Brown (ahli biologi dari Inggris). Terjadi akibat tumbukan antara partikel-partikel medium dengan partikel koloid.         
C.    Elektroforesis.
      Merupakan gerakan partikel koloid akibat pengaruh medan listrik, yang menunjukkan bahwa partikel koloid bermuatan listrik.
 Partikel koloid bermuatan negatif akan bergerak ke arah anoda (elektrode positif)
• Sebaliknya, partikel koloid bermuatan positif akan bergerak ke arah katode (elektrode negatif).
D.    Adsorbsi.
      Adalah kemampuan partikel koloid untuk menyerap ion / partikel lain pada permukaannya. Adsorbsi ion menyebabkan partikel koloid bermuatan listrik.
      1. Sol Fe(OH)3, bermuatan positif akibat adsorbsi ion-ion positif (ion-ion Fe3+)
      2. Sol As2S3, bermuatan negatif akibat adsorbsi ion-ion negatif (ion-ion S-)


E. Koloid Pelindung.
      Merupakan koloid yang dapat berfungsi sebagai pelindung bagi koloid lain. Koloid liofil bersifat lebih stabil daripada koloid liofob, sehingga koloid liofil berfungsi sebagai koloid pelindung.  Contoh gelatin pada es krim untuk mencegah pembentukan kristal besar es atau gula.
F.     Dialisis.
      Merupakan cara pemisahan partikel-partikel koloid dari ion-ion atau molekul sederhana menggunakan selaput semipermeabel (contoh : kertas selofan, usus kambing). Mesin dialisis dapat digunakan untuk alat cuci darah.
G.    Koloid liofil dan liofob.
      Dibedakan berdasarkan afinitas (daya tarik-menarik) antara fasa terdispersi dan medium pendispersinya.
     Pada koloid liofil, fasa terdispersi mempunyai kecenderungan untuk menarik       medium pendispersinya.
    Pada koloid liofil, fasa terdispersi mempunyai kecenderungan kecil untuk menarik       (atau bahkan menolak) medium pendispersinya.
H.   Koagulasi.
      Merupakan peristiwa peristiwa peng-gumpalan akibat bergabungnya partikel-partikel koloid membentuk partikel yang lebih besar. Dapat terjadi jika muatan partikel koloid dilucuti atau penambahan suatu elektrolit, sehingga muatannya ternetralkan yang berakibat hilangnya kestabilan koloid. Hilangnya kestabilan koloid berbuntut pada terjadinya koagulasi (pengendapan).


BAB III. PEMBUATAN KOLOID
      Dalam pembuatan koloid ada dua cara yang umum digunakan. Yaitu cara dispersi dan cara kondensasi.
A.    Kondensasi
      Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan) menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas reaksi kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dekomposisi rangkap, dan pergantian pelarut.
1) Reaksi Redoks
      Contoh:
      Pembuatan sol belerang dari reaksi redoks antara gas H 2 S dengan larutan SO 2 .
      Persamaan reaksinya:
      2 H 2 S (g) + SO 2 (aq) →2 H 2 O (l) + 3 S (s).
      Pembuatan sol emas dari larutan AuCl 3 dengan larutan encer formalin (HCHO).
      Persamaan reaksinya:
      2 AuCl 3(aq) + 3 HCHO (aq) + 3H 2 O (l) → 2 Au (s) + 6HCl (aq) + 3 HCOOH (aq)
2) Reaksi Hidrolisis
      Contoh, pembuatan sol Fe(OH) 3 dengan penguraian garam FeCl 3.
      Persamaan reaksinya adalah: mengunakan air mendidih.
      FeCl 3 (aq) + 3 H 2 O (l) → Fe(OH) 3 (s) + 3 HCl ( aq)
3) Reaksi Dekomposisi Rangkap.
      Contoh
      a)         Pembuatan sol As 2 S 3, dibuat dengan mengalirkan gas H 2 S dan asam                        arsenit (H 3 AsO 3 ) yang encer.
      Persamaan reaksinya: 2 H 3 AsO 3 (aq) + 3 H 2 S (g) → As 2 S 3 (s) + 6H 2 O (l).
      b)         Pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO 3 dengan larutan NaCl encer.
                  Persamaan reaksinya: AgNO 3 (aq) + NaC1 (aq) → AgCl (s) + NaNO 3 (aq)
4) Reaksi Pergantian Pelarut.
      Contoh, pembuatan sol belerang dari larutan belerang dalam alkohol ditambah dengan air.
Persamaan reaksinya: S (aq) + alkohol + air → S (s) Larutan S sol belerang.
B . Dispersi.
      Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar (suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik, peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.
1)     Proses Mekanik.
      Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh, pembuatan sol belerang.
2)  Peptisasi
      Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.
3)     Busur Bredig.
      Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya adalah dengan membuat logam, yang hendak dibuat solnya, menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam air; kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujung kawat. Logam sebagian akan meluruh ke dalam air sehingga terbentuk sol logam. Contoh, pembuatan sol logam.
4)     Suara Ultrasonik
      Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan sol logam. Ka1au busur Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di atas 20.000 Hz.

  BAB IV. PEMISAHAN KOLOID

1) Elektroforensis.
      Elektroforensis adalah proses pemisahan koloid yang bermuatan dengan bantuan arus listrik. Partikel-partikel yang positif akan menuju katoda dan yang negatif akan menuju anoda. Contoh: pemisahan protein, penangkapan debu pada cerobong asap, penentuan muatan koloid.
2)     Penyaringan Ultra.
      Memisahankan koloid melewati membran, berdasar perbadaan tekanan osmosis.

3) Dialisis.
      Dialisis adalah pemurnian medium pendispersi dari elektrolit, dengan cara penyaringan koloid dengan menggunakan kertas perkamen atau membran yang ditempatkan di dalam air yang mengalir. Mula-mula koloid dimasukkan dalam kantong yang berselaput semipermiabel kemudian dimasukkan dalam air sehingga ion pengganggu menembus kantong sedang partikel koloid tetap berada di kantong. Memisahkan koloid melewati membran berdasar perbedaan laju transpor partikel.
 
BAB V. KESIMPULAN

            Koloid adalah gabungan dari dua fase, yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi. Koloid berada diantara Larutan sejati dan suspensi. Mempunyai banyak sifat seperti efek Tyndall, gerak brown, Adsorbsi, dialis dan lain-lain.
            Koloid dapat dibuat dengan cara Kondensasi (penggabungan) ataupun Dispersi (pemecahan). Koloid juga dapat dipisahkan dengan beberapa cara yaitu, Elektroforensis ataupun dialis.